Tidak hanya atlet-atlet beken seperti pebalap Valentino Rossi dan petinju Filipina Manny Pacquiao yang masuk daftar gaji tertinggi di dunia. Pemain timnas sepakbola Ind onesia, Bambang Pamungkas rupanya masuk dalam jajaran pemain bayaran termahal.
Seperti diketahui, Majalah ESPN merilis 184 atlet berpenghasilan tertinggi di dunia. Daftar atlet termahal tersebut bakal terbit pada 2 Mei mendatang. Bepe, panggilan Bambang Pamungkas yang juga memperkuat klub Persija Jakarta itu mengantongi bayaran 160 ribu dolar Amerika pertahun atau sekitar Rp 1,5 miliar.
Namun, gaji Bepe masih kalah besar dibanding penghasilan para pemain bola dari negara lain seperti bintang Argentina, Carlos Teves yang berpenghasilan 19 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 165 miliar.
Gaji Bepe juga kalah besar dibanding pesepakbola Korea Selatan, Ji Sung Park yang kini memperkuat ‘Setan Merah’ Manchester United. Park mengantongi bayaran pertahun sebanyak 4,7 juta dolar Amerika atau 40,1 miliar.
Meski demikian, Bepe masih lebih tinggi dari pebulutangkis nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei yang mengantongi 106 ribu dolar Amerika atau sekitar Rp 925 juta.
Sementara itu, atlet dengan penghasilan tertinggi di dunia diraih atlet bisbol asal Amerika, Alex Rodriguez dan petinju Filipina, Manny Pacquiao. Keduanya mencetak 32 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 278 miliar setahun.
Jumat, 29 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
PELUNCURAN BUKU BEPE
FOTO NEWS
Peluncuran Buku BEPE20 Pesepakbola tim nasional Indonesia Bambang Pamungkas menunjukkan buku karyanya berjudul BEPE20 'Ketika Jariku Menari' saat peluncurannya di Jakarta, Sabtu (16/4). Hasil penjualan buku setebal 383 halaman ini akan disumbangkan kepada Syair.org dan Yayasan Pita Kuning yang memiliki perhatian terhadap anak-anak yang hidup dengan HIV dan AIDS serta anak-anak penderita kanker. ANTARA/Dhoni Setiawan/rj
Sabtu, 02 April 2011
BUKU "BEPE20 KETIKA JEMARIKU MENARI" SEGERA LAUCHING
NEWS
Buku Bepe Segera Terbit
Ditambah tulisan-tulisan yang belum pernah dipublikasikan, serta didukung foto-foto ekslusif, Yudhi F. Oktaviadhi, Wakil Redaktur Pelaksana BOLA yang juga penggagas Syair.org, merangkai dan mengedit berbagai tulisan tersebut menjadi sebuah buku.
Banyak cerita menarik di balik karier dan kehidupan Bepe sehingga dengan membaca buku berjudul “Bepe20 Ketika Jemariku Menari” itu maka kita akan memahami Bepe secara utuh. Banyak pula kisah-kisah inspiratif sehingga buku ini layak menjadi bacaan siapa pun termasuk remaja dan anak-anak yang mengidolakannya.
Buku akan diluncurkan pada 16 April 2011 di kantor tabloid BOLA. Hasil dari penjualan buku pun akan disumbangkan Bepe kepada dua yayasan yang selama ini didukung oleh Bepe yakni Syair Untuk Sahabat Foundation (Syair.org) dan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia. Semoga niat baik Bepe menjadi berkah dan bermanfaat bagi pergerakan kepedulian terhadap HIV/AIDS dan kanker.
Jumat, 25 Maret 2011
Timnas Indonesia mendapat keuntungan dalam kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia. Dalam format yang diumumkan di situs AFC tadi malam, Indonesia yang saat ini berada di urutan ke-24 dari total 43 anggota AFC langsung akan bertanding di putaran kedua. Itu karena Indonesia masuk dalam grup unggulan kedua zona Asia ( peringkat 6-27).
Perebutan empat tiket putaran final Piala Dunia 2014 plus satu tiket playoff zona Asia bakal mulai dihelat 29 Juni dan 3 Juli 2011. Tim yang bertanding di putaran I ini adalah Negara-negara yang menempati posisi 16 terbawah Asia ( urutan 28-43). Dalam grup ini terdapat juara Piala AFF 2010 Malaysia yang sementara ini menempati posisi ke-28 Asia.
Pada kualifikasi putaran pertama tersebut itu, tim - tim peserta akan saling bertemu kandang dan tandang. Selanjutnya, delapan tim pemenang dari putaran pertama akan bergabung dengan grup unggulan II yang didalamnya termasuk Indonesia. Total ke-30 tim itu akan bertanding juga dengan system home dan away pada 23 Juli dan 28 Juli 2011 untuk mencari 15 tim pemenang. Ke-15 tim pemenang itu selanjutnya akan bergabung dengan lima tim unggulan pertama untuk bertarung di putaran III. Lima unggulan teratas Asia adalah Jepang (1), Korsel (2) Australia (3), Korut (4), dan Bahrain (5).
Putaran III yang diikuti oleh 20 tim tersebut akan digelar dengan system dibagi menjadi lima grup. Masing-masing grup diisi empat tim. Pertandingan akan digeber pada 2 September 2011 hingga 9 Februari 2012.
Dari lima grup tersebut dua tim teratas melenggang ke putaran IV yang diikuti 10 peserta. Putaran IV ini akan dibagi menjadi dua grup. Tiap grup lima tim. Masing-masing tim juara dan runner up akan melaju ke putaran final Piala Dunia 2014 Brazil. Dua tim peringkat III ketiga pada putaran keempat akan bentrok untuk memperebutkan tiket melalui playoff inter-continental.
Dalam rilisnya AFC memberi catatan khusus kepada Jepang. JIka negara yang sebagian wilayahnya baru saja diluluhlantakkan gempa dan tsunami itu melaju ke putaran IV, mereka akan ditempatkan di posisi kelima di grupnya agar tidak bermain pada 18 Juni 2013 untuk memfasilitasi partisipasi tim Samurai Biru di Piala Konfederesi di Brasil pada 16-30 Juni 2013.
Undian putaran pertama akan dilakukan Rabu lusa (30/3). Rangking unggulan sendiri diambil berdasarkan dari rangking dari partisipasi di kualifikasi Piala Dunia 2010 dan Piala Asia 2011.
Dihubungi tadi malam, deputy bidang teknik BTN (Badan Tim Nasional) Iman Arif mengaku senang timnas senior bisa langsung berlaga di putaran II. Sebelumnya, bersama pelatih Alfred Riedl BTN sudah merancang program dengan asumsi Firman Utina dkk akan merangkak dari putaran I. "Jelas ini menguntungkan kita," ujar Iman Arif. "Target kami adalah timnas bisa menembus group stage," lanjut mantan ketua BTN ini.
Meski langsung bertanding di putaran II menurut Iman BTN tidak akan mengubah program yang disusun. Dimana pemain Timnas Senior akan dipanggil untuk TC pada 20 Juni. Pada 23 Juni Firman Utina dkk dijadwalkan melakoni ujicoba intenasional di Jakarta. Calon lawan tanding saat ini masih dicari. Karena saat itu akan ada dua timnas yang TC, yaitu timnas U-23 dan senior, BTN juga berencana merekrut satu pelatih lagi untuk membantu Alfred Riedl. Kandidat kuatnya adalah Rahmad Darmawan (Persija) dan Jacksen F. Tiago ( Persipura). (ali)
Unggulan Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia
Unggulan I:
1. Jepang
2. Korea Selatan
3. Australia
4. Korea Utara
5. Bahrain
Unggulan II:
6. Arab Saudi
7. Iran
8. Qatar
9. Uzbekistan
10.Uni Emirat Arab
11.Syria
12.Oman
13.Yordania
14.Irak
15.Singapura
16.China
17.Kuwait
18.Thailand
19.Turkmenistan
20.Lebanon
21.Yaman
22.Tajikistan
23.Hong Kong
24.Indonesia
25.Kyrgyzstan
26.Maladewa
27.India
Unggulan III:
28.Malaysia
29.Afghanistan
30.Kamboja
31.Nepal
32.Bangladesh
33.Sri Lanka
34.Vietnam
35.Mongolia
36.Pakistan
37.Palestina
38.Timor-Leste
39.Macau
40.Taiwan
41.Myanmar
42.Filipina
43.Laos
Jadwal pertandingan :
Putaran 1: 29 Juni dan 3 Juli 2011
Putaran 2: 23 Juli dan 28 Juli 2011
Putaran 3: 2 September, 6 September, 11 Oktober, 11 November, 15 November 2011 dan 29 Februari 2012.
Putaran 4: 3 Juni, 8 Juni, 12 Juni, 11 September, 16 Oktober, 14 November 2012, 26 Maret, 4 Juni, 11 Juni, 18 Juni 2013.
Putaran 5: 6 September dan 10 September 2013.
Putaran 6 (inter-continental playoff): 15 Oktober dan 19 November 2013.
Selasa, 22 Maret 2011
SEGALA SESUATU YANG MENJADI KESUKAAN BAMBANG PAMUNGKAS (BEPE)
| Klub | F.C Internazionale Milano 1908 dan Persija Jakarta 1928 |
| Tim Nasional | Indonesia dan Argentina |
| Pemain | Paul Gascoigne Salah satu pemain terbaik di dunia, skill dan intelegensianya luar biasa, banyak orang mencibir kehidupan dia di luar lapangan.. SO WHAT.. Semua orang mempunyai sisi gelap dalam hidupnya, begitu juga Anda ataupun saya, yg terpenting adalah bagaimana dia melakukan tugasnya di lapangan, for me he is my F***ing Hero... Kurniawan Dwi Julianto Menurut saya dia adalah striker terbaik Indonesia, pernah merumput di Eropa cukup mendeskripsikan kualitas dia, kemampuannya mengatasi tekanan publik ketika dia tersangkut masalah menunjukkan bahwa dia mempunyai mental yang luar biasa, tidak banyak pemain yg mampu bangkit dari keterpurukan seperti itu, pernah bermain bersama di Timnas PPD (Pra Piala Dunia) 2001 adalah impian yang menjadi kenyataan, dia adalah orang yg memberi inspirasi pada saya untuk berkarir sebagai pesepakbola... Thanks Bro... Widodo Cahyono Putro Seorang profesional sejati selalu menjadi contoh baik di dalam maupun di luar lapangan, pemain yg selalu mau berbagi ilmu dan pengalan kepada junior-juniornya, saya banyak mendapatkan ilmu darinya selama kami bermain bersama baik di persija maupun Timnas... Pribadi yg sangat luar biasa... |
| Pelatih | Ivan Kolev dan Benny Dolo |
| Stadion | Lebak Bulus dan Gelora Bung Karno |
| No. Punggung | 20 |
| Sepatu Bola | Nike Mercurial Superfly dan Asics Testimonial |
| Tokoh | Bung Karno, B.J Habibie dan Jamie Oliver |
| Musik | Keroncong, R & B dan Hip Hop |
| Penyanyi | Gesang, U2, Cold Play, Jay Z. Daniel Sahuleka dan KLA Project |
| Lagu | * Bengawan Solo (Gesang) * With or Without You, All I Want Is You (U2) * Don't Sleep Away this Night (Daniel Sahuleka) * Sunrise (Simply Red) * Song Cry (Jay Z) * Tentang Kita (KLA Project) |
| Film | Notting Hill, Jerry Mcguire dan Any Given Sunday |
| Artis Wanita | Winona Rider, Angelina Jolie dan Dian Sastrowardoyo |
| Artis Pria | Hugh Grant, Sean Conery dan Dedy Mizwar |
| Bacaan | Autobiography pesepakbola |
| Buku | * Bung Karno - Penyambung Lidah Rakyat * Jamie Oliver - The Naked Chef Series * Paul Gascoigne - My Story * Michael Jordan - Who Wants To Be Like Mike * Eric Cantona - The Rebel Who Would Be King * Paul arden - It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be * Vinie Jones - Confession Of a Bad Boy |
| Warna | Biru dan Pink |
| Parfum | * Lalique White * John Varvatos Artisan * Thiery Mugler Angel Blue |
| Tempat Berlibur | Jogjakarta dan Paradise Island (Maldives) |
| Kota | Salatiga, Jayapura dan Amsterdam |
| Makanan | Oseng pare, Pepes peda dan Lasagna |
| Minuman | Air putih dan Diet coke |
| Mobil | Toyota Celica |
| Merk Baju | Nike, Zara, Top Man, Lacoste dan Burberry |
| Sepatu Santai | Nike, All Star dan CamPER |
Sabtu, 05 Maret 2011
(HEBOH) idola mitha the virgin adalah BAMBANG PAMUNGKAS
Timnas 'Garuda' tengah menjadi sorotan karena aksi memukau mengalahkan Laos, Malaysia dan Thailand. Siapa pemain timnas idola Anda? Jika Mitha 'The Virgin' yang ditanya, maka Bambang Pamungkas (BP) jawabannya.
Menurut Mitha, sosok BP begitu menarik. Apalagi, kata gitaris asuhan Ahmad Dhani itu, BP berparas ganteng dan hitam manis.
"Dia cakep, hitam manis, orangnnya baik, dan ramah," ujar Mitha saat ditemui di Studio 'DahSyat' RCTI, Jalan Raya Perjuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (9/12/2010).
Mengenai kondisi persepakbolaan Indonesia yang tengah naik daun, sebagai musisi Mitha ikut gembira. Mengaku suka menonton bola
Menurut Mitha, sosok BP begitu menarik. Apalagi, kata gitaris asuhan Ahmad Dhani itu, BP berparas ganteng dan hitam manis.
"Dia cakep, hitam manis, orangnnya baik, dan ramah," ujar Mitha saat ditemui di Studio 'DahSyat' RCTI, Jalan Raya Perjuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (9/12/2010).
Mengenai kondisi persepakbolaan Indonesia yang tengah naik daun, sebagai musisi Mitha ikut gembira. Mengaku suka menonton bola
Minggu, 20 Februari 2011
KISAH HARU BAMBANG PAMUNGKAS
| Kisah Haru Bambang Pamungkas |
Sempet Denger ane banyak yang menggunjing BePe akhir² ini akibat permainan nya yang sedikit menurun drastis. dan banyak yang beralih ke bintang baru yang dari luar negeri . Irfan Bachdim ?
Apakah ini Sepak Bola Indonesia ?
Setidaknya hargailah gan, gitu-gitu juga kan dia lah yang membuka Permainan sepak bola Indonesia sehingga dikenal oleh negara lain. tapi ini balasannya ?
tapi dalam pertandingan Indonesia - Thailand BePe kyk nya udh buktiin kalo dia memang pantas sebagai kapten indonesia. dan bro&sist liat sendiri kan permainan Irfan Bachdim yang kacau bgtu ?
lihat artikel BP nih
Quote
“Sebuah janji di tengah malam yang sunyi”
Ditulis Oleh: Bepe, waktu: 6 December 2010, pada kategori:Tim Nasional
Dalam paragraf terakhir salah satu artikel saya (Special treatment for special person - 2008), terdapat sebuah kalimat yg berisi demikian. “Itu adalah komitmen saya sejak pertama kali saya di beri kehormatan menggunakan seragam kebesaran merah - putih 9th lalu. Dan satu hal lagi, saya siap menerjang apapun badai yg akan menerpa saya, karena - Saya Bukan Seorang Pengecut…!!!
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas sebuah kata dalam kutipan kalimat diatas, yaitu komitmen 9th yg lalu (Saat artikel tersebut saya tulis) atau 11th yg lalu (Saat saya menulis artikel ini). Sebuah peristiwa yg sejujurnya ringan, akan tetapi memberikan makna yg sangat dalam bagi pribadi saya, karir saya, cara saya berpikir serta karakter saya dalam menjalani pekerjaan sebagai pemain sepakbola..
Dan di bawah ini adalah ceritanya:
“Once, when i was young and started to play football, my bigest dream was to wear the red - white colour jersey and play for my country. And that dream remains, until now”
Sepulang bermain untuk timnas Indonesia di ajang Sea Games 1999 di Brunei Darussalam, saya menyempatkan diri pulang dan sowan pada kedua orang tua saya di Getas, Kec pabelan, Kab semarang. Saat itu, dua minggu menjelang Liga Indonesia VI di bergulir. Mengingat saya belum mempunyai klub, maka saya memutuskan untuk beristirahat dulu di kampung halaman…
Ada satu hal yg unik dalam perjalanan karir saya sebagai pemain sepakbola, hal unik yg mungkin tidak akan pernah dialami oleh pemain sepakbola lain republik ini. Yaitu, saat pertama kali saya bermain untuk tim nasional Indonesia, status saya masih sebagai pemain amatir (Belum bermain di liga Indonesia). Saat itu saya baru saja lulus dari kelas 3 IPS 2, di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Salatiga. Sebagai pemain sepakbola, saya hanya berstatus sebagai pemain dari Diklat Sepakbola Salatiga…
Saya mendapat kehormatan tersebut, karena dalam ajang piala asia usia 19th dan pra olimpiade saya tampil cukup impresif. Kebetulan saat itu, timnas U 19, timnas pra olimpiade dan timnas senior di kepalai oleh seorang pelatih yg sama, yaitu pelatih asal Jerman yg bernama Bernard schoem…
Dalam artikel saya (Diskusi via Twitter part one - 2009), saya sempat menyebutkan bahwa, salah satu hal yg paling saya sukai dari pelatih asing adalah, seorang pelatih asing selalu berani memberi kesempatan pada para pemain muda untuk unjuk kebolehan. Mereka selalu berpikir jauh ke depan dengan menyiapkan pemain-pemain muda, agar regenerasi dan keseimbangan sebuah tim terjaga dengan baik..
Dalam ajang Sea Games tersebut, banyak ilmu dan pengalaman yg saya dapat, karena saat itu saya mendapat kesempatan untuk bermain dalam satu tim bersama pemain-pemain kelas satu di negeri ini. Sebut saja Bima sakti, Widodo C Putra (assisten pelatih tim nas saat ini), Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Nur alim, Bejo Sugiantoro, Rochy Putiray, I Komang Putra, Hendro kartiko, Ali Sunan, Uston Nawawi, Agung Setyabudhi dll (Sangat di sayangkan Kurniawan D.J tidak berada dalam tim). Ketika itu kami berhasil membawa pulang medali perunggu, setelah mengalahkan Singapura di perebutan tempat ke tiga, melalui adu pinalty..
Sepulang dari ajang Sea Games 1999 tersebut, banyak hal yg berubah dalam kehidupan sehari-hari saya. Secara pribadi sejujurnya saya merasa tidak berubah, yg berubah adalah hal-hal di sekitar diri saya. Orang-orang mulai menegur saya ketika saya tengah berjalan, mereka tersenyum ramah kepada saya, ada beberapa yg meminta tanda tangan, akan tetapi tidak banyak atau boleh dikatakan jarang yg meminta berfoto bersama, karena saat itu tehnologi yg bernama handphone belum menjamur seperti saat ini, bahkan saat itu sayapun belum mempunyai ponsel pribadi…
Ketika berlibur di kampung halaman, saya banyak mengabiskan waktu saya berkumpul bersama orang tua dan saudara-saudara saya. Tidak lupa, saya juga menyempatkan diri untuk bermain kembali dengan sahabat-sahabat sepermainan saya, baik teman sekampung, sahabat di sekolah maupun rekan-rakan saya di Diklat salatiga…
Suatu hari saya pulang larut malam, kira-kira pukul 11 malam saya sampai di rumah. Saat itu saya pulang bersama seorang teman yg bernama Wasis Budiman, seorang pemain Diklat salatiga yg berasal dari kota Rembang, boleh di katakan dia adalah sahabat saya yg paling dekat…
Jarak Salatiga dengan Getas kira-kira memakan waktu 15 menit, saat itu kami berdua mengendarai sepeda motor Honda mega pro milik ayah saya. Wasis memegang kendali kemudi, sedang saya duduk di belakang sebagai penumpang (Sekedar untuk di ketahui, saat itu saya belum bisa menaiki sepeda motor, saya baru bisa mengendarai sepeda motor di usia 29th hehehe)..
Maka selama 15 menit, kamipun memacu sepeda motor tadi dengan kencangnya membelah suasana malam yg gelap, sunyi dan sangat dingin. Perjalanan itu sendiri terasa cukup mencekam, karena untuk sampai ke desa saya, kami harus melewati hamparan sawah yg luas serta dua buah pemakaman yg sudah cukup tua. Bagi mereka yg tidak terbiasa, saya yakin rasa takut akan datang menghampiri, akan tetapi bagi kami orang-orang kampung seperti saya, suasana tadi adalah salah satu daya tarik yg malah sampai saat ini selalu ingin saya ulangi kembali…
Sesampainya dirumah, kopi panas adalah hal pertama yg kami cari. Teras depan rumah orang tua saya, kami pilih menjadi tempat untuk menikmati kopi tubruk tersebut. Beberapa pisang goreng sisa tadi sore, terasa sangat nikmat dan pas untuk menjadi teman si kopi hitam yg kental tadi…
Sambil mengunyah pisang goreng dan menyeruput kopi panas, saya dan Wasis pun berbincang bincang ringan, membahas hal-hal yg lazimnya di bahas oleh anak-anak muda seusia kami. Hal tersebut membuat kami sesekali tertawa terkekeh-kekeh di tengah kesunyian malam tersebut. Bahkan beberapa kali, petugas ronda yg kebetulan lewat di depan rumah sayapun memperingatkan kami, tentunya sembari bercanda, karena mereka adalah teman-teman saya juga..
Jam Guess palsu ditangan kanan saya sudah menunjukkan pukul 00:45 pagi saat kami berdua memutuskan untuk beristirahat. Saat berjalan memasuki rumah, saya sempat terperanjat karena melihat sesuatu yg baru di ruang tamu. Di keremangan ruangan, nampak sebuah pigura kaca besar terpasang di salah satu sudut ruangan ini. Barang ini tidak pernah ada sebelumnya, maka secara reflek sayapun berjalan menghampiri pigura tersebut..
Setelah saya perhatikan dengan seksama ternyata pigura kaca tersebut berisi jersey tim nasional yg saya kenakan di perhelatan Sea Games yg lalu. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata ayah saya telah memesan sebuah figura untuk memajang jersey tersebut. Mungkin itu adalah ungkapan rasa bangga dari seorang ayah yg anaknya mendapat kesempatan membela negaranya..
Saat itu saya mempersilahkan Wasis untuk berangkat tidur terlebih dahulu. Agar nampak lebih jelas lampu ruang tamupun saya nyalakan, maka sekarang nampak jelas sebuah baju tim nasional berwarna merah dengan motif garis horizontal putih serta bernomor 20 di bagian dada. Bagian depan baju ini penuh dengan tanda tangan seluruh anggota squad tim nasional saat itu. Di bagian tengah, terdapat tanda tangan kapten kesebelasan saat itu, yaitu Bima Sakti beserta tulisan “Semoga Sukses buat Bambang” di bagian bawah namanya..
Itu adalah jersey pertama saya bersama tim nasional Indonesia, jersey itu memiliki nilai sejarah yg sangat tinggi dalam perjalanan karir sepakbola saya. Saya ingat, ketika pertama kali saya menunjukkan jersey tersebut kepada ayah saya, dengan semangat ayah saya langsung mengenakannya, bahkan menggunakan nya untuk bermain tenis bersama rekan-rekan sekantor beliau di sore harinya. Dengan bangganya ayah saya menceritakan setiap detail tanda tangan pemain nasional yg ada di atas jersey tersebut..
Dari raut muka ayah saya, nampak sekali jika beliau sangat bangga memakai seragam tersebut. Bahkan saya melihat, mungkin melebihi kebanggaan saya sendiri ketika mengenakannya. Terlihat sedikit norak dan kampungan memang, akan tetapi menurut pendapat saya, itulah sebuah ungkapan perasaan yg spontan dan jujur dari ayah saya..
Setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata pigura ini sedikit kurang simentris dalam pemasangannya, salah satu ujungnya nampak lebih tinggi dari sisi yg lain, maka dengan segera sayapun membetulkan letak pigura tersebut. Malam itu, sambil memandang jersey tersebut sayapun berjanji dalam hati. Sebuah janji yg akan selalu saya pegang, sampai saatnya nanti saya harus berhenti. Iya, sampai saatnya nanti saya harus berhenti..
Saya berjanji untuk selalu berusaha menepati dan menyanggupi setiap panggilan dari tim nasional Indonesia, apapun keadaannya. Saya akan selalu berusaha untuk datang tepat waktu, memberikan kemampuan terbaik saya, serta memberikan dedikasi tertinggi saya kepada pasukan garuda, dalam apapun kendalanya..
“Kemampuan saya mungkin akan berangsur surut seiring dengan berjalannya waktu, ketajaman saya sebagai seorang striker mungkin lambat laun akan memudar seiring dengan berkembangnya permainan sepakbola itu sendiri. Akan tetapi “TIDAK” dengan komitmen dan dedikasi saya kepada tim merah - putih. TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH…!!!”
Di belahan dunia manapun, bermain untuk tim nasional adalah puncak dari karir seorang pesepakbola, tidak ada yg dapat memungkiri itu. Memakai jersey merah-putih adalah perpaduan antara sebuah tanggung jawab dan kebanggan yg luar biasa. Sebuah kebanggan yg tidak akan pernah dapat di nilai dengan sekedar sebuah mata uang..
Menyayikan lagu Indonesia Raya bersama puluhan ribu pendukung garuda, merupakan sebuah pengalaman yg tidak akan pernah dapat di lukiskan dengan kata-kata (Baca: Artikel ketika sebuah lagu menyadarkan saya - 2008). Saya akan selalu berusaha menghayati dan menyanyikan lagu tersebut dengan lantangnya, dalam setiap penampilan saya bersama tim nasional Indonesia. Sebuah rasa kebanggaan yg hanya akan anda pahami, ketika anda mengalaminya sendiri..
Sebagai pemain, ada sebuah prinsip yg akan selalu saya pegang dalam karir sepakbola saya. Yaitu, saya akan selalu berusaha memberikan kemampuan terbaik saya dan mensupport tim baik di atas lapangan, dari bangku cadangan maupun dari tribun penonton..
Terkadang kita harus mampu mengesampingkan ego pribadi demi keutuhan tim, karena kebutuhan tim diatas segalanya, apalagi hal tersebut menyangkut kepentingan negara. bagi saya, apapun keputusan pelatih adalah bersifat mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Sebuah keputusan yg harus di hormati oleh seluruh komponen di dalam tim, karena memang begitulah cara kerja orang-orang profesional..
Saya selalu berusaha menjaga hubungan profesional secara baik dengan siapapun pelatih yg menangani saya bersama tim nasional. Dan sejujurnya, itu merupakan salah satu faktor kunci dalam keberhasilan saya bertahan selama 11 th, tampil sebanyak 81 kali dan mencetak 37 gol untuk negara yg sangat saya cintai (Sampai saat ini)..
Seperti halnya pigura kaca tersebut, yg sampai dengan saat dimana saya menulis artikel ini, masih menempel dengan kokoh di tempat yg sama dan tidak bergerak sedikitpun. Maka sampai detik ini, keyakinan, komitmen dan dedikasi saya juga tidak bergerak dan berkurang sedikitpun, tidak akan pernah berkurang kawan, sampai kapanpun. Saya tidak akan berhenti bermain untuk tim nasional, sampai suatu saat nanti, tenaga dan pikiran saya tidak dibutuhkan lagi oleh pelatih tim nasional..
“Cepat atau lambat, jersey merah - putih ini pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yg pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal disana sampai akhir hayatku”
One faith, one flag, one mission, one heart and one love for INDONESIA..
Ditulis Oleh: Bepe, waktu: 6 December 2010, pada kategori:Tim Nasional
Dalam paragraf terakhir salah satu artikel saya (Special treatment for special person - 2008), terdapat sebuah kalimat yg berisi demikian. “Itu adalah komitmen saya sejak pertama kali saya di beri kehormatan menggunakan seragam kebesaran merah - putih 9th lalu. Dan satu hal lagi, saya siap menerjang apapun badai yg akan menerpa saya, karena - Saya Bukan Seorang Pengecut…!!!
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas sebuah kata dalam kutipan kalimat diatas, yaitu komitmen 9th yg lalu (Saat artikel tersebut saya tulis) atau 11th yg lalu (Saat saya menulis artikel ini). Sebuah peristiwa yg sejujurnya ringan, akan tetapi memberikan makna yg sangat dalam bagi pribadi saya, karir saya, cara saya berpikir serta karakter saya dalam menjalani pekerjaan sebagai pemain sepakbola..
Dan di bawah ini adalah ceritanya:
“Once, when i was young and started to play football, my bigest dream was to wear the red - white colour jersey and play for my country. And that dream remains, until now”
Sepulang bermain untuk timnas Indonesia di ajang Sea Games 1999 di Brunei Darussalam, saya menyempatkan diri pulang dan sowan pada kedua orang tua saya di Getas, Kec pabelan, Kab semarang. Saat itu, dua minggu menjelang Liga Indonesia VI di bergulir. Mengingat saya belum mempunyai klub, maka saya memutuskan untuk beristirahat dulu di kampung halaman…
Ada satu hal yg unik dalam perjalanan karir saya sebagai pemain sepakbola, hal unik yg mungkin tidak akan pernah dialami oleh pemain sepakbola lain republik ini. Yaitu, saat pertama kali saya bermain untuk tim nasional Indonesia, status saya masih sebagai pemain amatir (Belum bermain di liga Indonesia). Saat itu saya baru saja lulus dari kelas 3 IPS 2, di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Salatiga. Sebagai pemain sepakbola, saya hanya berstatus sebagai pemain dari Diklat Sepakbola Salatiga…
Saya mendapat kehormatan tersebut, karena dalam ajang piala asia usia 19th dan pra olimpiade saya tampil cukup impresif. Kebetulan saat itu, timnas U 19, timnas pra olimpiade dan timnas senior di kepalai oleh seorang pelatih yg sama, yaitu pelatih asal Jerman yg bernama Bernard schoem…
Dalam artikel saya (Diskusi via Twitter part one - 2009), saya sempat menyebutkan bahwa, salah satu hal yg paling saya sukai dari pelatih asing adalah, seorang pelatih asing selalu berani memberi kesempatan pada para pemain muda untuk unjuk kebolehan. Mereka selalu berpikir jauh ke depan dengan menyiapkan pemain-pemain muda, agar regenerasi dan keseimbangan sebuah tim terjaga dengan baik..
Dalam ajang Sea Games tersebut, banyak ilmu dan pengalaman yg saya dapat, karena saat itu saya mendapat kesempatan untuk bermain dalam satu tim bersama pemain-pemain kelas satu di negeri ini. Sebut saja Bima sakti, Widodo C Putra (assisten pelatih tim nas saat ini), Aji Santoso, Anang Ma’ruf, Nur alim, Bejo Sugiantoro, Rochy Putiray, I Komang Putra, Hendro kartiko, Ali Sunan, Uston Nawawi, Agung Setyabudhi dll (Sangat di sayangkan Kurniawan D.J tidak berada dalam tim). Ketika itu kami berhasil membawa pulang medali perunggu, setelah mengalahkan Singapura di perebutan tempat ke tiga, melalui adu pinalty..
Sepulang dari ajang Sea Games 1999 tersebut, banyak hal yg berubah dalam kehidupan sehari-hari saya. Secara pribadi sejujurnya saya merasa tidak berubah, yg berubah adalah hal-hal di sekitar diri saya. Orang-orang mulai menegur saya ketika saya tengah berjalan, mereka tersenyum ramah kepada saya, ada beberapa yg meminta tanda tangan, akan tetapi tidak banyak atau boleh dikatakan jarang yg meminta berfoto bersama, karena saat itu tehnologi yg bernama handphone belum menjamur seperti saat ini, bahkan saat itu sayapun belum mempunyai ponsel pribadi…
Ketika berlibur di kampung halaman, saya banyak mengabiskan waktu saya berkumpul bersama orang tua dan saudara-saudara saya. Tidak lupa, saya juga menyempatkan diri untuk bermain kembali dengan sahabat-sahabat sepermainan saya, baik teman sekampung, sahabat di sekolah maupun rekan-rakan saya di Diklat salatiga…
Suatu hari saya pulang larut malam, kira-kira pukul 11 malam saya sampai di rumah. Saat itu saya pulang bersama seorang teman yg bernama Wasis Budiman, seorang pemain Diklat salatiga yg berasal dari kota Rembang, boleh di katakan dia adalah sahabat saya yg paling dekat…
Jarak Salatiga dengan Getas kira-kira memakan waktu 15 menit, saat itu kami berdua mengendarai sepeda motor Honda mega pro milik ayah saya. Wasis memegang kendali kemudi, sedang saya duduk di belakang sebagai penumpang (Sekedar untuk di ketahui, saat itu saya belum bisa menaiki sepeda motor, saya baru bisa mengendarai sepeda motor di usia 29th hehehe)..
Maka selama 15 menit, kamipun memacu sepeda motor tadi dengan kencangnya membelah suasana malam yg gelap, sunyi dan sangat dingin. Perjalanan itu sendiri terasa cukup mencekam, karena untuk sampai ke desa saya, kami harus melewati hamparan sawah yg luas serta dua buah pemakaman yg sudah cukup tua. Bagi mereka yg tidak terbiasa, saya yakin rasa takut akan datang menghampiri, akan tetapi bagi kami orang-orang kampung seperti saya, suasana tadi adalah salah satu daya tarik yg malah sampai saat ini selalu ingin saya ulangi kembali…
Sesampainya dirumah, kopi panas adalah hal pertama yg kami cari. Teras depan rumah orang tua saya, kami pilih menjadi tempat untuk menikmati kopi tubruk tersebut. Beberapa pisang goreng sisa tadi sore, terasa sangat nikmat dan pas untuk menjadi teman si kopi hitam yg kental tadi…
Sambil mengunyah pisang goreng dan menyeruput kopi panas, saya dan Wasis pun berbincang bincang ringan, membahas hal-hal yg lazimnya di bahas oleh anak-anak muda seusia kami. Hal tersebut membuat kami sesekali tertawa terkekeh-kekeh di tengah kesunyian malam tersebut. Bahkan beberapa kali, petugas ronda yg kebetulan lewat di depan rumah sayapun memperingatkan kami, tentunya sembari bercanda, karena mereka adalah teman-teman saya juga..
Jam Guess palsu ditangan kanan saya sudah menunjukkan pukul 00:45 pagi saat kami berdua memutuskan untuk beristirahat. Saat berjalan memasuki rumah, saya sempat terperanjat karena melihat sesuatu yg baru di ruang tamu. Di keremangan ruangan, nampak sebuah pigura kaca besar terpasang di salah satu sudut ruangan ini. Barang ini tidak pernah ada sebelumnya, maka secara reflek sayapun berjalan menghampiri pigura tersebut..
Setelah saya perhatikan dengan seksama ternyata pigura kaca tersebut berisi jersey tim nasional yg saya kenakan di perhelatan Sea Games yg lalu. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata ayah saya telah memesan sebuah figura untuk memajang jersey tersebut. Mungkin itu adalah ungkapan rasa bangga dari seorang ayah yg anaknya mendapat kesempatan membela negaranya..
Saat itu saya mempersilahkan Wasis untuk berangkat tidur terlebih dahulu. Agar nampak lebih jelas lampu ruang tamupun saya nyalakan, maka sekarang nampak jelas sebuah baju tim nasional berwarna merah dengan motif garis horizontal putih serta bernomor 20 di bagian dada. Bagian depan baju ini penuh dengan tanda tangan seluruh anggota squad tim nasional saat itu. Di bagian tengah, terdapat tanda tangan kapten kesebelasan saat itu, yaitu Bima Sakti beserta tulisan “Semoga Sukses buat Bambang” di bagian bawah namanya..
Itu adalah jersey pertama saya bersama tim nasional Indonesia, jersey itu memiliki nilai sejarah yg sangat tinggi dalam perjalanan karir sepakbola saya. Saya ingat, ketika pertama kali saya menunjukkan jersey tersebut kepada ayah saya, dengan semangat ayah saya langsung mengenakannya, bahkan menggunakan nya untuk bermain tenis bersama rekan-rekan sekantor beliau di sore harinya. Dengan bangganya ayah saya menceritakan setiap detail tanda tangan pemain nasional yg ada di atas jersey tersebut..
Dari raut muka ayah saya, nampak sekali jika beliau sangat bangga memakai seragam tersebut. Bahkan saya melihat, mungkin melebihi kebanggaan saya sendiri ketika mengenakannya. Terlihat sedikit norak dan kampungan memang, akan tetapi menurut pendapat saya, itulah sebuah ungkapan perasaan yg spontan dan jujur dari ayah saya..
Setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata pigura ini sedikit kurang simentris dalam pemasangannya, salah satu ujungnya nampak lebih tinggi dari sisi yg lain, maka dengan segera sayapun membetulkan letak pigura tersebut. Malam itu, sambil memandang jersey tersebut sayapun berjanji dalam hati. Sebuah janji yg akan selalu saya pegang, sampai saatnya nanti saya harus berhenti. Iya, sampai saatnya nanti saya harus berhenti..
Saya berjanji untuk selalu berusaha menepati dan menyanggupi setiap panggilan dari tim nasional Indonesia, apapun keadaannya. Saya akan selalu berusaha untuk datang tepat waktu, memberikan kemampuan terbaik saya, serta memberikan dedikasi tertinggi saya kepada pasukan garuda, dalam apapun kendalanya..
“Kemampuan saya mungkin akan berangsur surut seiring dengan berjalannya waktu, ketajaman saya sebagai seorang striker mungkin lambat laun akan memudar seiring dengan berkembangnya permainan sepakbola itu sendiri. Akan tetapi “TIDAK” dengan komitmen dan dedikasi saya kepada tim merah - putih. TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH…!!!”
Di belahan dunia manapun, bermain untuk tim nasional adalah puncak dari karir seorang pesepakbola, tidak ada yg dapat memungkiri itu. Memakai jersey merah-putih adalah perpaduan antara sebuah tanggung jawab dan kebanggan yg luar biasa. Sebuah kebanggan yg tidak akan pernah dapat di nilai dengan sekedar sebuah mata uang..
Menyayikan lagu Indonesia Raya bersama puluhan ribu pendukung garuda, merupakan sebuah pengalaman yg tidak akan pernah dapat di lukiskan dengan kata-kata (Baca: Artikel ketika sebuah lagu menyadarkan saya - 2008). Saya akan selalu berusaha menghayati dan menyanyikan lagu tersebut dengan lantangnya, dalam setiap penampilan saya bersama tim nasional Indonesia. Sebuah rasa kebanggaan yg hanya akan anda pahami, ketika anda mengalaminya sendiri..
Sebagai pemain, ada sebuah prinsip yg akan selalu saya pegang dalam karir sepakbola saya. Yaitu, saya akan selalu berusaha memberikan kemampuan terbaik saya dan mensupport tim baik di atas lapangan, dari bangku cadangan maupun dari tribun penonton..
Terkadang kita harus mampu mengesampingkan ego pribadi demi keutuhan tim, karena kebutuhan tim diatas segalanya, apalagi hal tersebut menyangkut kepentingan negara. bagi saya, apapun keputusan pelatih adalah bersifat mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Sebuah keputusan yg harus di hormati oleh seluruh komponen di dalam tim, karena memang begitulah cara kerja orang-orang profesional..
Saya selalu berusaha menjaga hubungan profesional secara baik dengan siapapun pelatih yg menangani saya bersama tim nasional. Dan sejujurnya, itu merupakan salah satu faktor kunci dalam keberhasilan saya bertahan selama 11 th, tampil sebanyak 81 kali dan mencetak 37 gol untuk negara yg sangat saya cintai (Sampai saat ini)..
Seperti halnya pigura kaca tersebut, yg sampai dengan saat dimana saya menulis artikel ini, masih menempel dengan kokoh di tempat yg sama dan tidak bergerak sedikitpun. Maka sampai detik ini, keyakinan, komitmen dan dedikasi saya juga tidak bergerak dan berkurang sedikitpun, tidak akan pernah berkurang kawan, sampai kapanpun. Saya tidak akan berhenti bermain untuk tim nasional, sampai suatu saat nanti, tenaga dan pikiran saya tidak dibutuhkan lagi oleh pelatih tim nasional..
“Cepat atau lambat, jersey merah - putih ini pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yg pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal disana sampai akhir hayatku”
One faith, one flag, one mission, one heart and one love for INDONESIA..
Langganan:
Postingan (Atom)


